Charlie Lim strips things back on reflective 3rd album 'DAYDREAM' — listen

Charlie Lim menyederhanakan segalanya dalam album ketiga yang penuh refleksi, ‘DAYDREAM’ — dengarkan

Estimated:  reading

Bagi Charlie Lim, melangkah maju tidak selalu berarti menemukan semua jawaban. 

Gagasan tersebut menjadi inti dari DAYDREAM, album studio ketiga penyanyi-penulis lagu asal Singapura ini. Ditulis selama tiga tahun di Singapura dan Inggris, album yang berisi delapan lagu ini menampilkan Charlie yang merenungkan penyesalan, hubungan, dan perubahan tanpa memaksakan kesimpulan yang rapi.

Sebaliknya, DAYDREAM mengambil jalur yang lebih sederhana. Gaya penulisan lagu folk, tekstur ambient, aransemen kamar, indietronica, dan UK garage muncul di sepanjang album ini, namun ciri paling menonjolnya mungkin justru apa yang sengaja dihilangkan oleh Charlie. 

“Album ini mengajarkan saya bahwa kejelasan sering kali muncul dari menghilangkan hal-hal tertentu dan mempercayai keheningan, ruang kosong, serta kerentanan untuk melakukan pekerjaan berat,” ujarnya.

Proses tersebut dimulai dengan penulisan yang mengalir sesuai alur pikiran, kemudian Charlie meninjau kembali dan membentuk ulang ide-ide awal tersebut sambil berusaha mempertahankan insting awalnya. Hasilnya adalah sebuah rekaman yang dibangun di atas dasar pengendalian diri, dengan aransemen yang memberikan ruang bagi penulisan lagu dan vokalnya untuk tampil di latar depan. 

Charlie bekerja sama erat dalam pembuatan album ini dengan produser asal Inggris, sugi.wa, yang juga dikenal sebagai Will Goldsmith. Lingkaran kolaborator yang lebih luas turut membantu memperkaya dunia album ini: penyanyi-penulis lagu asal Skotlandia, Tamzene, berkolaborasi dengannya dalam lagu ‘The Hardest Thing’, sementara Ng Pei-Sian, pemain cello utama Singapore Symphony Orchestra, tampil dalam lagu instrumental ‘I Can Only Carry You This Far’. Chok Kerong turut tampil di sepanjang album ini, bersama kontribusi dari Kin Leonn, Aneirin Wee, Andrei Eremin, dan Ian Lee.

Lagu-lagu dalam album ini kembali mengangkat pertanyaan-pertanyaan yang jarang memiliki jawaban sederhana. Lagu pembuka ‘One Day I'll Learn’ merenungkan penyesalan melalui kemungkinan perubahan, sementara ‘The Hardest Thing’ mengeksplorasi apa yang diperlukan untuk tetap mencintai seseorang ketika keadaan menjadi sulit. Melalui lagu penutup ‘I Got A Reason’, DAYDREAM tetap enggan mengikat semuanya menjadi satu, melainkan memilih untuk terus melangkah maju. 

Setelah perilisan album ini, Charlie juga akan melakukan tur regional dengan mampir di Taiwan, Filipina, dan Malaysia. Detail dan tanggal lebih lanjut belum diumumkan.