Artis eksperimental Jakarta, Logic Lost (alias Dylan Amirio), kembali dengan album konsep baru yang menggemparkan, Disposable Gods, yang dirilis melalui label Avon Terror Corps asal Bristol.
Album ini menyelami tema otoritarianisme, perlawanan, dan struktur kekuasaan yang berulang — diceritakan melalui pemberontakan fiksi yang secara mengerikan mencerminkan revolusi masa lalu dan kini, dari Palestina hingga Indonesia dan Rumania.
Di jantung pemberontakan sonik ini terdapat kontribusi oleh Rully Shabara dan Wukir Suryadi dari Senyawa, serta kolaborator dari berbagai kalangan bawah tanah Indonesia termasuk Deathless Ramz (Deathless), Lody Andrian (Gowa), dan Ferdian Maulana (Hakkon).
“Manusia yang memperoleh kekuasaan seringkali melihat diri mereka sebagai dewa… Namun, tak peduli seberapa ilahi seseorang melihat diri mereka, mereka tetaplah manusia,” kata Logic Lost. Filsafat ini mendasari Disposable Gods — campuran kacau balau antara digital hardcore, metal, drone, dan techno yang dirancang untuk terdengar seperti kerusuhan yang berulang.
Setiap lagu di Disposable Gods mengikuti alur cerita — mulai dari percikan protes pertama di ‘World of Prayer’ dan pemberontakan total di ‘Insurgents’, yang menampilkan Rully Shabara, hingga konfrontasi berdarah di ‘Fix Bayonets’, dan rasa pahit revolusi di ‘Trash Begets Trash’ dan ‘Without Sin’. Lagu-lagu lain yang menonjol termasuk ‘Biadab’, yang menampilkan Wukir Suryadi, di mana para penindas yang tersisa berjuang untuk bertahan hidup; ‘Fear of Razorblades’, sebuah perjalanan brutal menuju keadilan; dan ‘Jurang Kuasa’, yang mengeksplorasi perebutan kekuasaan saat para tiran melarikan diri.
Album ini tersedia melalui Bandcamp dan Nina Protocol serta melalui CD oleh Avon Terror Corps dan rilis kaset yang direncanakan oleh label Indonesia Orange Cliff Records. Album ini juga akan segera tersedia di layanan streaming terpilih.
-