KUN adalah penyanyi, produser, dan figur budaya yang pengaruhnya mencakup musik, mode, dan budaya pop di Asia dan lebih luas. Dikenal karena pendekatan yang berfokus pada pertunjukan dan identitas visual yang tajam, seniman kelahiran China ini secara konsisten membangun audiens internasional melalui rilisan yang memadukan sensitivitas pop klasik dengan produksi modern, disertai pertunjukan langsung berskala besar dan kolaborasi global.
Di antara rilisan tersebut adalah ‘What a Day’, lagu pop retro-soul yang direkam secara langsung ke pita dan terinspirasi oleh energi tampil bersama band penuh. Lagu ini menangkap apresiasi KUN terhadap spontanitas dan koneksi manusia, tema yang juga membentuk video musiknya yang direkam dalam satu take, terinspirasi oleh Old Hollywood, yang difilmkan di London. Bersama-sama, lagu dan visual ini menyoroti preferensinya terhadap keaslian daripada kesempurnaan, baik di rekaman maupun di layar.
Dalam wawancara ini, KUN merefleksikan koneksinya dengan penonton di berbagai kota, menyesuaikan energinya untuk penampilan live, dan mengambil inspirasi dari pengaruh klasik yang terus memengaruhi musiknya hingga kini. Ia juga menatap ke depan tentang apa yang akan datang, karena tur dan rilis baru tetap menjadi prioritas di cakrawala.
Belum genap setahun sejak Anda debut internasional dengan ‘Deadman’. Apa yang paling mengejutkan Anda tentang respons orang-orang terhadap musik Anda di luar pasar domestik?
Saya selalu merasa musik itu universal, jadi saat membuat musik, saya hanya fokus pada apa yang saya lakukan. Saya sebenarnya tidak terlalu memikirkan hasilnya. Saya merasa Anda hanya perlu jujur pada diri sendiri, dan orang-orang bisa merasakannya.
Apa yang membuat Anda tertarik untuk merekam video musik ‘What a Day’ dalam sekali take?
Setelah saya membawakan lagu itu di panggung, saya mendapat ide untuk melakukan semuanya dalam satu kali pengambilan dan merekamnya ke pita. Setelah merekam lagu itu dalam satu kali pengambilan, saya merasa harus melakukan hal yang sama untuk video musiknya. Saya berkata pada tim saya, bagaimana jika kita melakukan semuanya dengan nuansa pertunjukan langsung?
Ada adegan tertentu yang sulit untuk dikuasai, atau momen di balik layar yang Anda ingat?
Itu adalah masa yang sangat sulit bagi saya. Saya ingat terbang dari China ke Islandia, lalu ke Bangkok, dan kemudian ke London. Itu hampir melampaui batas tubuh saya, jadi itu adalah tantangan besar bagi saya.
Apakah gaya penampilan atau energi Anda berubah tergantung pada kota atau negara tempat Anda berada? Apa momen paling tak terlupakan di atas panggung bagi Anda sejauh ini?
Setiap kali saya tampil di kota atau negara yang berbeda, saya merasa selalu ada energi yang berbeda, penonton yang berbeda, dan suasana yang berbeda — itulah yang saya sukai. Saya merasakannya, dan saya menyukainya. Saya merasa bersemangat karena itu. Pada tahun 2025, saya akan mengatakan bahwa saat pertama kali saya tampil dengan lagu ‘Deadman’, saya sedang sakit parah dan khawatir tentang suara saya. Saya bahkan mendapatkan infus sebelum naik panggung.

Anda telah menyebutkan artis seperti Frank Sinatra, Elvis, dan Prince sebagai pengaruh utama. Bagaimana pengaruh-pengaruh tersebut tercermin dalam musik Anda sendiri?
Ada bagian dari diri saya yang sangat old school, sangat old soul. Saya suka menonton film-film lama dan mendengarkan lagu-lagu klasik. Saya merasa ada kontras dalam membawa suara-suara lama dan gaya old school ke dunia modern saat ini.
Ketika Anda memikirkan tahun 2026, apa yang paling membuat Anda antusias saat ini?
2026 adalah tahunnya, karena saya akan merilis album pada 6 Februari, dan saya akan mulai tur dengan album baru saya. Semoga saya bisa datang ke Singapura untuk tampil, dan saya harap bisa bertemu dengan kalian di sana.
View this post on Instagram
Like what you read? Show our writer some love!
5